Sejarah Ibadah Haji

banner agen travel umroh dan haji jadwal biaya murah

SEJARAH IBADAH HAJI: KAJIAN SINGKAT

Sejarah Ibadah Haji yang akan kami jelaskan merupakan kajian singkat mulai dari zaman Nabi Ibrahim as hingga masa kekhalifahan.

Ayat Al-Qur’an Yang Menjelaskan Tentang Sejarah Ibadah Haji

Sejumlah ayat Al-quran secara jelas menerangkan keterkaitan antara keberadaan Ka’bah dengan kehidupan Nabi Ibrahim AS sebagai Abul Anbiya (leluhur para Nabi).

Kabah pada masa lalu

Kabah pada masa lalu

Pertama, ketika Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah SWT untuk menempatkan istrinya (Hajar) dan putranya (Ismail) jauh dari tempat tinggalnya. Ternyata tempat tersebut sudah dikenal oleh Nabi Ibrahim AS sebagai lembah yang tidak memiliki tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, (QS 14:37).

Kedua, Nabi Ibrahim dibantu oleh putranya (Ismail), diminta meninggikan pondasi Baitullah/Ka’bah (rumah Allah SWT), (QS 2 : 127). Lebih dari itu, tempat berpijaknya Nabi Ibrahim AS ketika beliau membangun Ka’bah ini sekarang dikenal dengan Maqam Ibrahim. Kemudian dalam rangkaian ibadah umroh atau haji adanya keharusan shalat di belakang Maqam Ibrahim ini.

Ketiga, setelah menetapkan Baitullah (Ka’bah) sebagai tempat berkumpul yang aman, Allah SWT menegaskan bahwa Baitullah disediakan untuk thawaf, i’tikaf dan shalat, (QS al-Baqarah; 2 : 125 dan al-Hajj, 22 : 26).

Setelah Nabi Ibrahim dan putranya (Ismail) menyelesaikan pembangunan Ka’bah itu, keduanya lalu berdo’a kepada Allah SWT.

Do’a Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

Do’a mereka yaitu agar amalan yang selama ini dikerjakan dapat diterima Allah SWT, menjadikan diri dan seluruh keturunannya sebagai umat yang berserah diri kepada Allah SWT. Lalu berdoa agar ditunjukkan tata cara manasik haji, tobatnya diterima, dan agar Allah SWT mengutus seorang Rasul ditengah masyarakat. Rasul untuk masyarakat menghuni daerah seputar Baitullah untuk menyampaikan dan menjelaskan risalah-Nya.

BACA JUGA: BIAYA PAKET UMROH PLUS TURKI.

Do’a Nabi Ibrahim AS agar Allah SWT menunjukkan tata cara manasik haji ada dua kemungkinan, Pertama, karena sebelumnya memang tidak ada syari’at ibadah haji.

Kemungkinan kedua, ibadah haji ini sudah pernah disyari’atkan kepada umat sebelumnya, tapi diperlukan pembaharuan karena sudah tidak sesuai sehingga perlu diluruskan. Dari kemungkinan yang kedua inilah tampaknya dimunculkan kata yarfa’u dalam surah al-Baqarah : 127.

Maksud dari kata yarfa’u yaitu meninggikan pondasi Ka’bah yang mengisyaratkan pondasi Ka’bah itu sudah ada sebelum perintah itu datang kepada Nabi Ibrahim AS.

Hal ini selanjutnya diperkuat dengan firman Allah SWT yang menyatakan, Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi umat manusia, (QS 3 : 96).

Bahkan, dalam beberapa ayat, Ka’bah disebutnya sebagai Baitul `Atiq, Kata al`Atiq dimaknai oleh Imam Raghib al-Isfahani sebagai sesuatu yang awal atau permulaan. Artinya, Baitul `Atiq adalah rumah tua, rumah antik yang dibangun sebagai tempat ibadah pertama umat manusia.

Sejarah Mekkah Menjadi Sebuah Pemukiman

Atas perintah Allah SWT, Ibrahim meninggalkan istrinya Siti Hajar dan anaknya Isma’il di padang pasir Mekkah dengan sedikit makanan dan air, serta tempat yang tidak berpenghuni.

Untuk mencari air, Siti Hajar tanpa putus asa berlari tujuh kali di antara dua bukit Shofa dan Marwah namun tidak menemukannya.

BACA JUGA: BIAYA PAKET UMROH REGULER.

Lalu kemudian dia melihat pada bayinya yang sedang menggaruk pasir dengan kakinya dan keluar air di bawahnya.

Pada perkembangan selanjutnya, karena adanya air, banyak suku-suku yang mulai menetap di Mekkah, dan suku Jurhum menjadi suku pertama yang datang.

Sejarah Ziarah ke Mekkah sebelum Islam

Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam adalah pemuja berhala, dan Ka’bah masih menjadi pusat pemujaan dan dipenuhi dengan berhala dan gambar Malaikat.

sejarah ibadah haji dari masa nabi ibrahim

sejarah ibadah haji dari masa nabi ibrahim

Selama musim ziarah tahunan, orang-orang dari dalam dan luar negeri akan mengunjungi Ka’bah, dan suku Quraisy bertugas untuk melayani para jamaah.

Shibli Nomani menyebutkan bahwa orang-orang Arab pagan memperkenalkan beberapa ritual suci selama ziarah mereka.

Tidak seperti ibadah Haji saat ini, mereka tidak berjalan di antara perbukitan Shofa dan Marwah dan tidak berkumpul di Arafah.

Pada tahun-tahun awal kenabian, musim haji memberikan Nabi Muhammad SAW kesempatan untuk menyebarkan ajaran Islam ke orang-orang yang datang ke Mekkah untuk berziarah.

Nabi Muhammad SAW dan Ibadah Haji

Rangkaian Ibadah Haji saat ini diprakarsai oleh nabi Muhammad SAW melalui petunjuk dari Allah SWT sebagai reformasi dari ziarah orang-orang Arab pagan.

sejarah ibadah haji pada masa lalu

sejarah ibadah haji pada masa lalu

Mekkah ditaklukkan oleh umat Islam di 630 M, dan Nabi Muhammad SAW kemudian membersihkan Ka’bah dengan menghancurkan semua berhala dan kembali mensucikan Ka’bah.

Tahun selanjutnya, Abu Bakar ra memimpin 300 orang Muslim untuk berziarah ke Mekkah dimana Ali ra menyampaikan khotbah yang menetapkan ritual baru haji dan membatalkan upacara pagan.

Dia secara khusus menyatakan bahwa mulai tahun depan orang yang tidak beriman, kafir, dan telanjang tidak diizinkan untuk mengelilingi Ka’bah.

Pada tahun 632 M, sesaat sebelum wafat, Nabi Muhammad SAW melakukan ziarah satu-satunya dan terakhir dengan sejumlah besar pengikut, dan mengajarkan ritual dan tatakrama haji.

Di dataran Arafah, dia menyampaikan khotbah terkenal – yang dikenal dengan Khotbah perpisahan Nabi Muhammad SAW – kepada mereka yang hadir. Dan sejak saat itu, menunaikan ibadah haji menjadi salah satu dari lima rukun Islam.

Sejarah Ibadah Haji pada Abad Pertengahan dan Utsmaniyah

Pada abad pertengahan, para jamaah akan berkumpul di ibu kota Suriah, Mesir, dan Irak untuk pergi ke Mekkah dalam kelompok yang terdiri dari puluhan ribu jamaah.

mekkah pada masa lampau

mekkah pada masa lampau

Para penguasa muslim dari masing-masing wilayah akan bertanggung jawab atas ibadah haji, serta mengorganisir kafilah ziarah tersebut.

Untuk memfasilitasi perjalanan ibadah haji, dilakukan pembangunan jalan sepanjang 900 mil yang membentang dari Irak ke Mekkah dan Madinah.

Pembangunan jalan itu dilakukan pada masa khalifah Abbasiyah ketiga al-Mahdi, ayah dari khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid, yaitu sekitar tahun 780 M.

Jalan ini kemudian dinamai ‘Jalan Zubayda’ (Darb Zubaidah), diambil dari nama istri Harun, karena dia terkenal melakukan perbaikan disepanjang jalan dan memberikan air serta makanan untuk jamaah secara berkala.

Baik Harun dan Zubayda melakukan ibadah haji beberapa kali dan melakukan kegiatan perbaikan di Mekkah dan Madinah.

Sumber Informasi Sejarah Ibadah Haji pada Abad Pertengahan

Informasi tentang ibadah haji pada abad pertengahan berasal dari pengamatan langsung dari tiga pelancong Muslim yaitu, Nasir Khusraw, Ibnu Jubair, dan Ibnu Batutah.

Khusraw melakukan haji pada tahun 1050 Masehi, dan memulai perjalanan pertamanya dari Granada pada tahun 1183 M.

Ibnu Jubair, penduduk asli Bangsa Spanyol, melakukan ziarah pertamanya pada tahun 1184 dan kemudian pergi ke Kota Baghdad.

Ibnu Battuta, penduduk asli Bangsa Maroko, meninggalkan rumahnya pada tahun 1325 dan melakukan haji pertamanya pada tahun 1326 M.

Setelah jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 (selama periode Mamluk), Damaskus dan Kairo menjadi titik utama bagi para jamaah.

Sementara jamaah haji dari Suriah, Irak, Iran, dan Anatolia bergabung dengan kafilah Damaskus, dan yang berasal dari wilayah Afrika Utara dan Sahara bergabung dengan kafilah Kairo.

Demikian penjelasan dari kami tentang Sejarah Singkat Ibadah Haji dari Zaman Nabi Ibrahim AS hingga Masa Kekhalifahan.

Search Sejarah Ibadah Haji: Kajian Singkat

Kajian Singkat Sejarah Ibadah Haji | Sejarah dari Masa Nabi Ibrahim AS hingga Pada Masa ke Khalifahan.

Pembahasan Tentang Sejarah Haji | Sejarah Ibadah Haji | Ayat-ayat Al-Qur’an yang Membahas Tentang Ibadah Haji.

Share this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *